Kallis Hoe Kloset

Informasi Terbaru Terkini Terupdated

Keunggulan Nana dalam Harass serta Kekurangan di Late Game

Keunggulan Nana dalam Harass serta Kekurangan di Late Game – Hai, Sobat Kallisshoe kloset! Kalau kamu pernah bermain Nana, pasti kamu tahu betapa mengesalkannya ia sebagai hero harass. Skill-skillnya mampu memaksa musuh bermain lebih hati-hati, dan Molina bisa membuat siapa pun kesal karena tiba-tiba berubah jadi boneka mungil yang tidak berdaya. Namun, banyak pemain terlalu cepat menyimpulkan bahwa Nana adalah hero yang “cukup kuat di semua fase” hanya karena ia mudah digunakan dan mematikan di early game.

Faktanya, asumsi tersebut tidak sepenuhnya tepat. Nana memiliki keunggulan jelas di fase awal, tetapi kekurangannya di late game juga tidak bisa diabaikan. Bahkan, semakin lama permainan, kontribusinya sering menurun drastis jika tidak dimainkan dengan tujuan yang tepat.

Mari kita bahas lebih dalam—lebih kritis, lebih jujur secara gameplay, dan lebih realistis berdasarkan kondisi aktual pertandingan.


Keunggulan Nana dalam Harass: Tekanan Konstan yang Mengganggu Alur Musuh

1. Skill Poke yang Menyusahkan

Magic Boomerang menjadi sumber poke utama Nana. Damage-nya cukup tinggi di early game dan bisa mencicil HP lawan tanpa harus mengambil risiko besar.

Namun ada asumsi keliru yang perlu diluruskan:
Banyak pemain menganggap poke Nana akan tetap menyakitkan di sepanjang game. Ini bias yang timbul karena early game Nana memang kuat. Namun scaling damage Nana cenderung menurun, dan musuh yang membeli Magic Defense akan dengan mudah menahan tekanan dari skill ini.

Jadi, Nana bukan hero poke yang “tetap relevan” di semua fase—ia lebih tepat disebut hero harass early game.

2. Molina yang Mengganggu Pergerakan Musuh

Molina Boost adalah salah satu kemampuan kontrol ruang paling menyebalkan di game ini. Musuh yang terkena Molina bisa berubah menjadi boneka dan kehilangan kecepatan gerak.

Keunggulan objektifnya:

  • Memaksa musuh menjauh,
  • Membatasi agresi assassin,
  • Menjadi perangkap di bush,
  • Menghentikan momentum engage lawan.

Namun perlu dicatat:
Molina tidak menghentikan semua hero. Skill dash cepat, burst instan, atau cleanse effect bisa membuat Molina kurang efektif di level tinggi.

Artinya, keunggulan Nana ini sangat situasional—berguna untuk menahan musuh yang naïf, tetapi kurang maksimal untuk pemain yang cermat membaca gerakannya.

3. Skill Passive Anti-Dive

Ini aspek yang sering membuat pemain Nana merasa aman: saat Nana sekarat, ia bisa berubah menjadi Molina kecil dan kebal sementara, memberikan kesempatan escape.

Tapi kita perlu realistis:
Passive ini bukan imunitas absolut. Musuh bisa:

  • menunggu durasinya habis,
  • mengatur burst ulang setelah efeknya selesai,
  • atau menempatkan Nana dalam posisi yang tetap tak selamat meski passive aktif.

Jadi, menganggap Nana “aman dari assassin” adalah kesimpulan yang kurang akurat.

4. Ultimate yang Menjadi Penentu Team Fight Awal

Molina Blitz, ultimate Nana, memberikan damage area, slow, dan stun yang cukup mengganggu. Di early–mid game, efek ini bisa jadi penentu fight kecil.

Namun ada perspektif lain yang sering diabaikan:

  • Stun Nana relatif kecil dibanding mage control lain,
  • Damage ultinya kalah scaling dibanding hero mage late game,
  • Rentang area ulti terbatas untuk fight besar.

Ultimate Nana kuat, tapi tidak cukup untuk memimpin team fight skala besar di late game.


Kekurangan Nana di Late Game: Impact yang Menurun Tajam

1. Damage Scaling yang Lemah

Inilah fakta paling penting yang sering ditutupi player Nana yang terlalu percaya diri: semakin lama game berjalan, damage Nana makin tertinggal. Mage late game seperti Yve, Pharsa, Valentina, atau Xavier bisa memberikan ancaman yang mematikan, sementara Nana hanya mampu memberikan damage sedang atau sekadar gangguan.

Logika yang perlu diuji:
Jika timmu butuh burst atau control besar di late game, Nana hampir tidak bisa memenuhinya. Ia hanya punya tools untuk memecah fokus musuh, bukan menghapus mereka.

2. CC yang Mudah Di-counter di Late Game

Di late game, sebagian besar musuh:

  • memiliki item anti-control,
  • punya dash lebih banyak,
  • memiliki lifesteal tinggi,
  • atau punya frontliner yang siap menyerap efek CC.

Stun dari ultimate Nana menjadi makin mudah dihindari, sementara Molina makin mudah dipatahkan oleh mobilitas musuh.

Ini melemahkan peran Nana dalam fight krusial.

3. Ketergantungan pada Kesalahan Musuh

Nana adalah hero yang dapat menghukum musuh yang salah langkah. Tapi ia kurang efektif menghadapi musuh yang bermain disiplin—yang membaca pergerakan, menjaga jarak, dan memiliki awareness tinggi.

Dengan kata lain:

  • Nana kuat kalau musuh sering misposition,
  • Nana lemah jika musuh bermain rapat, rapi, dan agresif terstruktur.

Ini membuat Nana menjadi hero yang cenderung memiliki skill-ceiling rendah.

4. Tidak Punya Pengaruh Besar dalam War 5v5 di Fase Akhir

Di late game, tim biasanya membutuhkan hero yang bisa:

  • memberikan burst besar,
  • zoning area,
  • mengganggu formasi,
  • atau memulai team fight.

Nana tidak terlalu unggul dalam keempat aspek tersebut. Ia lebih cocok sebagai pengganggu tambahan, bukan game changer.


Pengalaman Bermain Nana: Menjengkelkan di Awal, Menurun di Akhir

Early Game: Sangat Kuat sebagai Harasser

Di fase ini, Nana sangat menggigit. Kamu bisa memaksa musuh bermain mundur dan membuat rotasi mereka kacau. Ia juga bagus untuk menahan jungler musuh yang mencoba invade.

Namun, banyak pemain salah paham dan menjadi terlalu agresif. Nana memang aman, tapi bukan berarti ia bisa sembarang maju tanpa memperhitungkan jungler musuh.

Mid Game: Posisi Ideal Nana

Ini adalah fase ketika Nana paling efektif:

  • damage masih relevan,
  • Molina masih menyebalkan,
  • ultimate bisa memecah fight kecil,
  • passive sangat membantu menahan tekanan.

Tapi transisi ke late game adalah titik kritis—jika Nana gagal memberikan snowball untuk timnya di fase ini, ia akan terasa semakin ringan ancamannya.

Late Game: Harus Bermain Lebih Cerdas, Bukan Lebih Kasar

Di fase akhir, Nana tidak bisa lagi bertumpu pada poke dan harass. Ia harus berbicara dengan positioning:

  • jaga jarak dari assassin,
  • lempar Molina ke arah flank,
  • simpan ultimate untuk moment penting.

Namun tetap saja, pengaruhnya lebih kecil dibandingkan mage lain yang punya damage atau zoning jauh lebih kuat.


Kesimpulan: Nana Memang Menyebalkan, Tapi Tidak Dirancang untuk Late Game Besar

Sobat, Nana adalah hero yang luar biasa efektif dalam memberikan harass dan kontrol kecil. Ia:

  • mudah dimainkan,
  • kuat di early game,
  • membuat musuh frustrasi,
  • dan bisa memecah konsentrasi lawan.

Namun menganggap Nana kuat di semua fase adalah asumsi yang menyesatkan.

Kenyataannya:

  • scaling damage-nya lemah,
  • CC-nya makin mudah dihindari,
  • kontribusinya menurun drastis di late game,
  • dan ia bergantung pada kesalahan musuh.

Nana adalah hero yang harus memaksakan tempo sejak awal. Jika kamu ingin memaksimalkannya, kamu harus fokus pada rotasi agresif, poke berkelanjutan, dan zone control sejak game dimulai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *